16Feb
Berita Dilihat 29 Kali

Di Balik Angka Kemiskinan: Penelitian Mahasiswa Untag Ungkap Peran Korupsi dan Utang


Surabaya 14 Februari 2026-  Kemiskinan masih menjadi wajah buram pembangunan Indonesia. Di tengah pertumbuhan ekonomi dan berbagai program pengentasan yang terus digulirkan, fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih tertinggal, terutama dalam akses pendidikan, layanan kesehatan, dan kesempatan kerja. Dari kegelisahan itulah, Mahardika Harilinawan, mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, mencoba memberi sumbangan pemikiran melalui karya ilmiah.

Mahardika terpilih sebagai salah satu mahasiswa dengan penelitian menarik berjudul “Pengaruh Korupsi dan Utang Luar Negeri terhadap Kemiskinan di Indonesia Tahun 2003–2022”. Penelitian tersebut lahir dari kepeduliannya terhadap persoalan struktural yang selama ini kerap dibahas secara normatif, namun jarang dikaji secara komprehensif oleh mahasiswa tingkat sarjana.

“Selama ini kemiskinan sering hanya dilihat dari angka statistik. Padahal di balik angka itu ada kenyataan bahwa banyak masyarakat belum benar-benar menikmati hasil pembangunan,” ujar Mahardika saat ditemui di kampus Untag Surabaya.

Melalui penelitiannya, Mahardika mencoba mengurai keterkaitan antara tingkat korupsi, utang luar negeri, dan kondisi kemiskinan di Indonesia dalam rentang hampir dua dekade. Ia memanfaatkan data dari lembaga internasional yang kredibel, seperti World Bank melalui publikasi World Development Indicators untuk data kemiskinan dan utang luar negeri, serta Corruption Perception Index (CPI) dari Transparency International untuk mengukur tingkat persepsi korupsi.

Hasil kajiannya menunjukkan bahwa korupsi masih menjadi persoalan serius yang memengaruhi efektivitas kebijakan publik. Menurut Mahardika, tingginya praktik korupsi berdampak langsung pada tersendatnya manfaat anggaran negara bagi masyarakat. “Kalau korupsi terus terjadi, dana pembangunan tidak sepenuhnya sampai ke sasaran. Akhirnya, tujuan menurunkan kemiskinan menjadi sulit dicapai secara optimal,” jelasnya.

Selain korupsi, Mahardika juga menyoroti peran utang luar negeri dalam pembangunan. Secara teori, utang luar negeri semestinya menjadi instrumen strategis untuk mendorong pertumbuhan dan mengurangi kemiskinan melalui pembangunan infrastruktur, layanan publik, serta penciptaan lapangan kerja. Namun, realitas di Indonesia menunjukkan bahwa penurunan angka kemiskinan belum sepenuhnya sebanding dengan peningkatan jumlah utang luar negeri.

“Penurunan kemiskinan memang terjadi, tetapi lajunya belum terlalu signifikan jika dibandingkan dengan lonjakan utang luar negeri. Artinya, ada persoalan dalam efektivitas pemanfaatannya,” ungkap mahasiswa angkatan 2022 tersebut.

Ia juga menyoroti ketimpangan yang masih terasa antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil. Menurutnya, kemiskinan di kota besar kerap tidak terlalu tampak, berbeda dengan kondisi di wilayah tertinggal yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur dan akses dasar. “Kalau kita melihat langsung ke daerah-daerah terpencil, kemiskinan itu sangat nyata dan terasa,” tambahnya.

Melalui penelitian ini, Mahardika berharap temuannya dapat menjadi bahan pertimbangan bagi para pemangku kebijakan. Ia menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan negara agar setiap rupiah anggaran benar-benar berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Bagi Mahardika, pemberantasan korupsi bukan semata persoalan etika tata kelola, melainkan kunci utama untuk memastikan pembangunan berjalan efektif.

Dalam proses penyusunan skripsi, Mahardika dibimbing oleh Dr. Arga Christian Sitohang, S.E., M.M. Ia mengakui bahwa keterbatasan data dalam negeri menjadi tantangan tersendiri, sehingga diperlukan kehati-hatian ekstra dalam mengolah dan memverifikasi sumber informasi.

Mahardika berhasil menyelesaikan studi dalam waktu 3,5 tahun dan dijadwalkan mengikuti wisuda pada 15 Februari 2026. Lewat karya ilmiahnya, ia membuktikan bahwa mahasiswa tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi juga dapat berperan aktif mengkritisi dan menawarkan sudut pandang akademik demi Indonesia yang lebih berkeadilan

Pendaftaran Mahasiswa Baru Untag Surabaya